Cerita Sahabat tentang Banggai

Cerita Sahabat tentang Banggai

Salah seorang sahabat yang saya kenal sejak masih duduk di bangku SMA tiba-tiba mengirimkan saya sebuah pesan di kotak masuk di Facebook. Hampir 5 tahun kami tak berkabar karena kesibukan masing-masing. Setelah selesai kuliah dan bekerja, kontak kami memang sempat terputus. Padahal dulu saat kuliah tiada hari tanpa saling berkabar, apalagi kami satu kosan.

Sewaktu kuliah sahabat saya bukan tipe yang senang diajak jalan ke mana-mana. Saat saya heboh mendaki gunung dan menjelajahi pulau-pulau di Manado. Sahabat saya memilih belajar di kos atau pulang ke rumah orangtuanya di Amurang. Saya berpikir kelak sahabat saya ini hanya akan berakhir di Manado saja selama hidupnya.

Nyatanya saya salah.

Mungkin benar kata orang-orang, menikah terkadang mengubah pribadi seseorang.

Di kotak masuk Facebook saya berlempar kabar dengan sahabat saya dan membuat saya saya cukup terkejut. Ternyata setelah menikah suaminya mengajak pindah ke salah satu kota di Sulawesi Tengah untuk memulai usaha mereka. Tepatnya di Luwuk, di Kabupaten Banggai.

Saya jelas tak menyangka kalau sahabat yang saya kira tak akan berani keluar dari zona nyamannya, malah memilih merantau. Karena tidak banyak yang memiliki nyali untuk merantau, meninggalkan tanah kelahiran sendiri.

Lalu percakapan kami mengalir tentang bagaimana kehidupan dia di sana. Saya banyak bertanya tentang Banggai, karena saya selalu penasaran dengan tempat-tempat baru di luar Manado. Walau sama-sama masih berada dalam satu Kepulauan Celebes, saya belum pernah sama sekali ke Luwuk. Penjelajahan paling jauh saya di Sulawesi mungkin hanya di Kwandang, itupun karena berlabuh sebentar saat naik kapal dari Bitung ke Jakarta. 

Lokasi Luwuk

Kota Luwuk berjarak 610km dari Palu, ibukota provinsi Sulawesi Tengah. Luwuk merupakan kota sekaligus ibukota dari Kabupaten Banggai.

source: banggaikab.go.id

Untuk mencapai Kabupaten Banggai dapat ditempuh melalui perjalanan darat, laut, dan udara.

Sahabat saya pergi melalui jalur udara dari bandara Sam Ratulangi ke bandara Syukuran Aminuddin Amir. Setiap hari ada penerbangan reguler menuju Luwuk, dari Palu, Makassar, dan Manado. Jika ingin bepergian melalui jalur darat, bisa naik kendaraan umum atau mobil carteran. Tersedia bus-bus kecil atau sedang dari Makassar dan Palu. Sedangkan jika ingin mengakses dari jalur laut, bisa naik kapal laut tujuan Makassar – Luwuk atau Bitung – Luwuk.

Saat saya bertanya kepada sahabat saya, apakah dia sering mengalami homesick? Karena merantau itu bukan perkara mudah. Saya sendiri merasakannya saat merantau keluar dari Bitung dan harus tinggal di Tangerang. Bagaimana saya selalu kangen kota kelahiran saya, makanannya, suasananya, orang-orangnya. Saya harus beradaptasi dari awal karena segala perbedaan yang cukup signifikan.

Sahabat saya menjawab tidak.

Tak banyak perbedaan di Banggai, katanya. Malahan dia merasa seperti rumah sendiri karena suasana di Banggai tak jauh berbeda dengan di Manado. Tak ada yang namanya dia homesick karena kangen makanan. Makanan khas Banggai enak-enak, tak jauh dari lidah orang Manado yang suka pedas.

Kuliner 

Jika suatu saat saya datang mengunjungi sahabat saya, dia akan mengajak saya mencicipi beberapa jenis makanan kesukaannya.

  1.  Onyop. Terbuat dari sagu yang disiram bermacam-macam kuah. Sekilas makanan ini mirip dengan papeda tapi citarasanya sedikit berbeda. 
  2. Ikan bakar dan dabu-dabu iris.
  3. Kuah asam. Kuah yang dimasak dengan ikan dengan rasa asam dan gurih yang segar.
  4. Pisang louwe. Pisang goreng yang disajikan dengan dabu-dabu terasi. 
  5. Milu siram.
  6. Saraba. Minuman jahe dicampur gula merah dan susu.

Pantas saja jika sahabat saya tak mengalami homesick. Makanannya saja tak jauh berbeda dengan yang ada di Manado walau mungkin citarasanya sedikit berbeda. Karena lain dapur lain pula rasanya.

Lalu saya bertanya, jika saya ingin menjelajahi Banggai, apa saja tempat yang harus saya kunjungi?

Kata sahabat saya, dia akan mengajak saya ke beberapa tempat yang sudah dia kunjungi di Banggai.

Obyek Wisata

Sebagian besar wilayah Luwuk terdiri dari pegunungan, pesisir pantai, dan dialiri sungai. Karakteristik ini menjadi potensi alam yang dapat dijadikan sebagai objek wisata yang menjanjikan.

1. Air Terjun Salodik

Salah satu obyek wisata andalan di Luwuk bernama Air Terjun Salodik. Berjarak 20km dari kota Luwuk, tepatnya berada di Desa Salodik. Air terjun ini berada di ketinggian 750-1000 mdpl menjadikan kawasan ini sejuk dan segar. 

Air Terjun Salodik dikenal dengan airnya yang jatuh bersusun. Airnya jernih berwarna hijau kebiruan. Bahkan di saat musim kemarau pun tak akan pernah kering.

2. Bukit Teletubbies

Saya tertawa saat dia mengatakan ini. Tadinya saya pikir sahabat saya sedang bercanda, ternyata bukit ini benar ada di Banggai. Sepanjang mata memandang ada hamparan padang rumput yang hijau. Dari atas bukit pun bisa lepas memandang keseluruhan Kota Luwuk. 

3. Pantai Kilolima

Namanya sih Kilolima tapi jarak sebenarnya tak sampai satu kilo dari Luwuk. Pantai indah berair biru benhur yang dipenuhi terumbu karang. 

4. Penangkaran Burung Maleo 

Burung yang bahasa latinnya macrocephalon maleo ini merupakan spesies endemik di Sulawesi. Dulu burung ini tersebar di seluruh Sulawesi namun karena kerusakan habitat dan pengambilan telur secara berlebihan, burung ini terancam punah. 

Saya jadi ingat dulu semasa kecil saya pernah mencicipi telur burung yang besarnya enam kali lipat dari telur ayam biasa. Rasanya kok bersalah banget mengingat itu, karena saya sama sekali tidak tahu kalau spesies ini jumlahnya menurun drastis. 

Jika ingin melihat langsung penangkaran burung ini, bisa datang ke Desa Taima, Kabupaten Banggai. 

5. Makam raja-raja Banggai

Sahabat saya tahu saya sangat menyukai kebudayaan lokal. Katanya saya harus mengunjungi Kelurahan Lompio di Kecamatan Banggai. Ada makam raja-raja Banggai, situs Kapitan Parambuang, serta sisa benteng Portugis.

Ragam budaya dan kearifan lokal 

Kata sahabat saya,  dia betah tinggal di Banggai. Kotanya aman dan ramah.

Luwuk sendiri merupakan potret kota multietnis. Ada empat suku dominan di Luwuk;  Saluan, Gorontalo, Muna-Buton,  dan Tionghoa.  Suku lainya adalah Banggai, Mori, Minahasa, Bugis, Jawa, Bali, Balantak, Taa, Tataliabo, Kaili, Toraja, dan suku-suku di Indonesia lainnya yang berdatangan dan menetap di Luwuk. Karena keragaman inilah membuat banyak sekali ragam budaya yang saling bercampur.

Karena keragaman budaya ada salah satu tarian yang merupakan tari kreasi gabungan dari 3 suku yang mendiami Banggai, yaitu Balantak, Banggai dan Saluan atau biasa disingkat Babasal. Tarian Molabot namanya.

Tari Molabot didominasi oleh gerak tangan yang melingkar yang diartikulasikan sebagai simbol kebersamaan dan kekeluargaan. Syair-syairnya banyak mengungkapkan rasa persaudaraan.

Mungkin salah satu tujuan terciptanya tarian ini adalah untuk menunjukkan kalau keragaman itu indah. Berbeda tidak menjadikan kita eksklusif tapi berbeda membuat kita bersyukur karena perbedaan itu bukan pemisah melainkan bisa menjadi pemersatu.

Setelah mendengar semua kisah sahabat saya tentang Banggai membuat saya tak ingin hanya sampai di mendengar saja, tapi juga benar-benar ingin menginjakkan kaki di tempat yang indah itu. Karena Indonesia tak melulu harus dikenal karena keindahan Pulau Bali atau Lombok saja, ada banyak daerah yang sama indahnya. Banggai salah satunya.

Apalagi di bulan April nanti bakal ada festival sastra di Banggai. Jika biasanya festival sastra yang dikenal di Indonesia Timur itu hanya MIWF, kali ini sekelompok anak muda kreatif yang tergabung dalam Festival Sastra Banggai atau FSB berniat menghidupkan sastra di daerah mereka. Meminjam konsep yang serupa dari MIWF dan UWRF mereka ingin “Rayakan Kata, Bumikan Ilmu” itu bahkan menjadi tema yang mereka pilih. Karena mereka ingin melahirkan sastra yang menghibur sekaligus bermanfaat bagi orang banyak.

Saya sangat berharap bisa ikut menyaksikan perhelatan sastra di salah satu kota di Timur Indonesia ini.