Berani Jual, Berani Beli: Sebuah Taktik Bermukim yang Berseni

Berani Jual, Berani Beli: Sebuah Taktik Bermukim yang Berseni

Kemajuan sebuah kota dapat diukur dari banyak hal. Ukuran yang menyenangkan, bisa Anda saksikan sendiri lewat megahnya pembangunan. Semakin banyak infrastruktur diperkaya, berarti semakin besar juga akomodasi yang ditawarkan. Penawaran akomodasi ini, dilakukan semata-mata untuk mendukung kesibukan masyarakat di kota tersebut. 

Demografi sebuah kota, mengenal istilah “masyarakat siang” dan “masyarakat malam”. Kemegahan pembangunan kota, diyakini sebagai upaya mendukung masyarakat siang. Jumlah penduduk tersebut berbanding tidak seimbanga dengan penduduk malam. Hal ini jelas berkaitan dengan aktivitas dan mobilitas mereka.

Sejak jam 7 pagi, masyarakat siang sudah mulai sibuk. Mereka memadati halte-halte bus, berdesakan turun dari komuter, hingga adu kencang klakson di tikungan.

Kemacetan adalah pemandangan lazim. Hal ini pula yang menampilkan ukuran tidak menyenangkan dari kemajuan sebuah kota. Beberapa kawasan di pusat kota, menjadi arena rutin sebagai potret kemacetan. Deretan bus dan mobil pribadi yang seolah parkir di tengah jalan, merupakan pemandangan atraktif di pagi hari.

source: pixabay.com 

Apabila Anda mampu menghindari kemacetan, walaupun kemungkinannya sangat kecil, berarti Anda sudah berhasil menerapkan taktik berkendara. Dengan memanfaatkan beragam pilihan transportasi, hanya orang bebal saja yang masih terjebak berjam-jam di dalam Kopaja atau Metromini reyot.

Orang-orang bebal tersebut biasanya belum memiliki pengalaman berkendara yang banyak. Bukan karena kurang jalan-jalan. Penyebabnya cenderung karena mereka masih belum lama beraktivitas di kota. Misalnya para pekerja muda, mahasiswa atau mahasiswi perantauan, hingga pendatang dari kota satelit.

Perlunya Bermukim secara Taktis

Sebuah survei tentang mobilitas masyarakat perkotaan, menyebut bahwa ketiga jenis orang di atas membutuhkan waktu untuk menjadi taktis. Mereka butuh, sekurang-kurangnya, 3 sampai 6 bulan agar lebih cerdik dalam berkendara. Dengan catatan, aktivitas ketiganya di kota memang terjadi secara rutin, dari Senin sampai Jumat selama ± 10 jam.

Kurang dari 50 jam sepekan, berarti mereka memerlukan tambahan waktu untuk beradaptasi. Bisa sampai 10 bahkan 18 bulan. Jumlah ini setara dengan usia minimal bayi untuk bisa berjalan. Wah, tragis, ya!

Berbanding terbalik dengan manusia-manusia yang kurang berpengalaman, sejumah orang yang sudah kenyang dengan taktik berkendara, memilih berpikir lebih praktis dan ekonomis untuk menyiasati kemacetan. Penghitungan biaya untuk bersiasat pun, mulai banyak diterapkan.

Konsekuensi bersiasat memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau Anda terjebak dalam bus, minimal Anda harus merogoh kantong lebih dalam, dan berpindah naik ojek. Berarti alokasi ongkos transportasi bertambah. Belum lagi kalau sistem lembur di kantor memakai model remburs. Uang makan malam dan transportasi pun, semakin bertambah.

Berdasarkan gambaran tersebut, ada 2 jenis orang yang menyiasati konsekuensi bersiasat dengan kemcetan. Pertama, orang-orang yang menyerahkan nasibnya pada cicilan kendaraan. Harapan mereka, dengan memiliki kendaraan pribadi, maka mereka bisa menerobos kemacetan. Mereka yakin bisa menemukan jalan-jalan alternatif, yang macetnya agak manusiawi.

Jenis orang yang kedua adalah mereka yang berpindah hunian ke apartemen. Hitungan biayanya memang terkesan lebih mahal, dibanding mencicil kendaraan. Akan tetapi, hitungan mereka tidak berlaku untuk jangka pendek. Kepemilikan apartemen, jelas menjamin keuntungan untuk jangka panjang. Sebutan populernya, mereka berinvestasi.

source: pixabay.com

Dalam 3 tahun terakhir, semakin banyak orang yang memutuskan berinvestasi dengan membeli apartemen. Selain persiapannya yang lebih minim dibanding membangun rumah, apartemen juga diminati karena lokasinya yang sudah pasti strategis.

Lain hal jika Anda membeli rumah di kawasan ini. Harga rumah di kawasan yang dekat dengan pusat bisnis, pusat perbelanjaan, atau fasilitas kesehatan, akan jauh lebih tinggi. Jadi, membeli apartemen jelas menjanjikan nilai yang lebih ekonomis daripada membeli rumah.

Karena tujuan Anda pindah ke apartemen untuk berinvestasi, maka Anda perlu segera mencari tawaran apartemen dijual, bukan yang disewakan. Dengan demikian, kesempatan Anda untuk menjualnya kembali dengan harga tawar tertentu, akan semakin besar. Perkiraan keuntungannya bisa mencapai 80 persen.

Sementara, kalau Anda sekadar berinvestasi untuk menyewakannya, Anda membutuhkan jenis hunian lain untuk menetap. Cara ini terlalu membuang waktu, menguras pikiran, dan menghabiskan tenaga.

Keuntungan dari menyewakan apartemen memang dapat Anda raup secara berkala. Akan tetapi, ada konsekuensi waktu, tenaga, dan pikiran, yang harus dipikirkan. Lagi pula, passive income semacam ini lebih besar tingkat menyusahkannya, dalam jangka pendek maupun di masa depan.

Misalkan, apartemen yang Anda sewakan gagal menarik perhatian dari penyewa dalam waktu yang cukup lama. Konsekuensinya, Anda sendirilah yang harus menanggung biaya kebersihan, perbaikan, dan keamanan, setiap bulannya.

Semakin luas apartemen yang Anda sewakan, semakin besar pula biaya perawatan yang Anda keluarkan. Kalau konsekuensi seperti ini sudah terjadi, apa masih pantas menyewakan apartemen disebut sebagai passive income?

Menghasilkan Karya Seni

Memiliki apartemen yang bisa dijual kembali, menghapus segala konsekuensi waktu, tenaga, dan pikiran. Jangan terburu-buru menghitung saldo untuk menjualnya dalam waktu dekat. Sempatkanlah dulu menikmati apartemen Anda, sambil merencanakan penjualannya 2-3 tahun lagi.

Persiapkan rencana itu dengan mendekorasi apartemen, agar semakin memancarkan daya tarik bagi calon pembeli. Mulailah persiapan itu dengan memilih satu tema kreatif. Pancarkan harmoni ruangan dengan perpaduan yang sedap dipandang mata.

Proses selanjutnya dikenal dengan sebutan “4P”, yakni pengisian furnitur; pewarnaan ruangan; penempatan atau peletakan barang; dan penyesuaian perilaku. Dari proses ini akan muncul daftar prioritas tentang barang yang perlu atau tidak perlu, disertakan dalam paket penjualan nantinya.

Perlu Anda ingat, proses jual beli apartemen bukanlah proses pemindahan kepemilikan saja. Apartemen tidak melulu soal pergantian pembayar tagihan listrik atau perawat kebersihan. Lebih dari itu, Anda harus mampu menawarkan gaya hidup melalui tema-tema dekoratif yang telah Anda persiapkan sebelumnya.

Kreasi yang terwujud dalam pilihan tema tersebut, akan membuat apartemen Anda bernilai seni. Dengan demikian, penawaran harga apartemen Anda pun bisa diibaratkan layaknya karya seni. Percayalah, tidak ada karya seni yang harganya murah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s